Google+ Followers

Selasa, 24 Juni 2014

Karacteristik Hama Tikus



Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama padi utama di Indonesia, kerusakan yang ditimbulkan cukup luas dan hampir terjadi setiap musim. Tikus menyerang semua stadium tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti.

Di Indonesia, kehilangan hasil akibat serangan tikus sawah diperkirakan dapat mencapai 200.000 – 300.000 ton per tahun. Usaha pengendalian yang intensif sering terlambat, karena baru dilaksanakan setelah terjadi kerusakan yang luas dan berat. Oleh karena itu, usaha pengendalian tikus perlu memperhatikan perilaku dan habitatnya, sehingga dapat mencapai sasaran. Tinggi rendahnya tingkat kerusakan tergantung pada stadium tanaman dan tinggi rendahnya populasi tikus yang ada.

MORFOLOGI HAMA TIKUS SAWAH
Tikus sawah mirip dengan tikus rumah, tetapi telinga dan ekornya lebih pendek. Ekor biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan, dengan 1,3%, telinga lebih pendek daripada telinga tikus rumah.rasio 96,4 Panjang kepala-badan 170-208 mm dan tungkai belakang 34-43 mm.

Tubuh bagian atas berwarna coklat kekuningan dengan bercak hitam pada rambut, sehingga berkesan berwarna abu-abu. Daerah tenggorokan, perut berwarna putih dan sisanya putih kelabu. Tikus betina mempunyai 12 puting susu.

BIOLOGI HAMA TIKUS SAWAH
Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan lingkungan sekitar sawah. Daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Mereka suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi.

Tikus sawah termasuk omnivora (pemakan segala jenis makanan). Apabila makanan berlimpah mereka cenderung memilih yang paling disukai, yaitu biji-bijian/padi yang tersedia di sawah. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman, mereka menyerang semua stadium tanaman padi, sejak pesemaian sampai panen. Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.

Jumlah anak tikus per induk beragam antara 6-18 ekor, dengan rata-rata 10,8 ekor pada musim kemarau dan 10,7 ekor pada musim hujan, untuk peranakan pertama. Peranakan ke 2-6 adalah 6-8 ekor, dengan rata-rata 7 ekor. Peranakan ke 7 dan seterusnya, jumlah anak menurun mencapai 2-6 ekor, dengan rata-rata 4 ekor. Interval antar peranakan adalah 30-50 hari dalam kondisi normal.

Pada satu musim tanam, tikus betina dapat melahirkan 2-3 kali, sehingga satu induk mampu menghasilkan sampai 100 ekor tikus, sehingga populasi akan bertambah cepat meningkatnya. Tikus betina terjadi cepat, yaitu pada umur 40 hari sudah siap kawin dan dapat bunting. Masa kehamilan mencapai 19-23 hari, dengan rata-rata 21 hari. Tikus jantan lebih lambat menjadi dewasa daripada betinanya, yaitu pada umur 60 hari. Lama hidup tikus sekitar 8 bulan.

Sarang tikus pada pertanaman padi masa vegetatif cenderung pendek dan dangkal, sedangkan pada masa generatif lebih dalam, bercabang, dan luas karena mereka sudah mulai bunting dan akan melahirkan anak. Selama awal musim perkembangbiakan, tikus hidup masih soliter, yaitu satu jantan dan satu betina, tetapi pada musim kopulasi banyak dijumpai beberapa pasangan dalam satu liang/sarang. Dengan menggunakan Radio Tracking System, pada fase vegetatif dan awal generatif tanaman, tikus bergerak mencapai 100-200 m dari sarang, sedangkan pada fase generatif tikus bergerak lebih pendek dan sempit, yaitu 50-125 m dari sarang.

Sabtu, 16 November 2013

Laporan Pelaksanaan kegiatan Kaji Terap Pengairan basah kering Padi sawah pada MT 2 tahun 2012


KATA PENGANTAR


Pada dasarnya melakukan pengkajian terhadap hal yang baru adalah bermaksud untuk mengetahui kebenaran empiris terhadap suatu hal yang baru tersebut agar dapat mengetahui kebenaran kebenaran yang ada pada hal itu. Pengkajian dapat  dilakukan melalui metode obserfasi, intervieu, kuisioner ataupun percobaan langsung dilapangan.
Kaji terap suatu teknologi pertanian adalah suatu upaya penerapan teknologi pertanian dilapangan  yang dilakukan guna mengetahui keuntungan ataupun kerugian yang ada pada teknologi tersebut sehingga dapat diambil kesimpulan apakah teknologi tersebut layak untuk diterapkan.
Guna mewujudkan tercapainya surplus beras 10 juta ton yang ditargetkan pemerintah pada tahun 2012 dan mengantisifasi dampak dari perubahan iklim yang semakin ekstrim, maka segala upaya harus dilakukan agar target surplus beras tersebut dapat tercapai.
Penerapan teknologi teknologi pertanian pada budidaya tanaman padi  adalah suatu upaya guna meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi. Namun sebelum teknologi pertanian tesebut diterapkan pada tingkat petani maka sudah selayaknya dilakukan pengkajian terhadap teknologi pertanian tersebut  agar dapat diketahui kelayakan penerapan teknologi tersebut diwilayah persawahan setempat.
Pada musim tanam II (dua) tahun 2012, BP3K Kecamatan Batanghari melakukan kaji terap Pengairan Basah Kering (Intermitten Irrigation) pada tanaman padi sawah yang tampaknya bisa memberikan banyak manfaat positif bagi tanaman padi dan juga merupakan salah satu upaya dalam mengantisipasi perubahan iklim yang semakin extrim.
Berikut laporan tertulis dari hasil kaji terap Pengairan Basah Kering yang dilaksanakan oleh BP3K kecamatan batanghari kabupaten lampung timur.

                                                                                                                  Batanghari,    september 2012
                                                                                                                  Korluh BP3K Kec Batanghari


                 ASHARI, A. SP
                 NIP: 19620914198603 1 008



I.       PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Salah satu tugas dan fungsi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan (BP3K) ditingkat kecamatan adalah menyelenggarakan pengkajian tentang suatu teknologi pertanian / kaji terap pada komoditas pertanian yang dianggap perlu dilaksanakannya penerapan teknologi pertanian tertentu. Sehingga dari hasil kaji terap teknologi pertanian  itu dapat diperoleh suatu kesimpulan, apakah teknologi pertanian tersebut layak diterapkan pada lokasi persawahan diwilayah setempat.
 Teknik hemat air dalam budidaya padi sawah dilakaukan mulai dari tahapan persiapan lahan dan selama masa pertumbuhan tanaman, bahkan pada fase dimana tanaman menjelang panen.  Teknik hemat air dapat dilakukan dengan cara perbaikan atau penyesuaian teknik budidaya dengan memanfaatkan  potensi sumber daya air setempat dan melalui inovasi teknologi pertanian yang salah satunya adalah PENGAIRAN BASAH KERING (INTERMITTEN IRRIGATION).
Pada musim tanam II (DUA) tahun 2012, BP3K kecamatan batanghari kabupaten lampung timur  melakukan uji coba penerapan salah satu teknologi pertanian pada budidaya tanaman padi yaitu PENGAIRAN BASAH KERING / PENGAIRAN BERSELANG (INTERMITTEN IRRIGATION) yang dilakukan pada lokasi sawah BP3K Kecamatan batanghari itu sendiri.
Pemberian air secara berselang (intermitten) pada budidaya tanaman padi merupakan  salah satu metode pengairan yang dapat diukur secara praktis. Pengairan ini disebut juga pengairan basah-kering (PBK)/Alternate Wetting and Drying (AWD), yaitu pengaturan air di lahan sawah  pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian. Pengairan berselang adalah sistem pengairan yang direkomendasikan dalam budidaya padi sawah.
Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan  teknik PENGAIRAN BASAH KERING pada tanaman padi sawah, diantaranya :
a) pemilihan varitas yang berumur genjah,
b) kalender tanam dalam suatu hamparan tersier seragam,
c) waktu dan cara pengolahan tanah yang sesuai dengan jadwal pemberian air,
d) pengaturan penggenangan air menurut fase pertumbuhan tanaman baik tinggi dan durasinya
e) penerapan pergiliran air (kondisi pasokan air di bawah normal),
f) pemeliharaan pematang termasuk kerapatan pematang dalam luasan tertentu dan
g) drainase permukaan terutama pada musim hujan.








1.2      Tujuan
A.            Tujuan umum:
1.      Untuk menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas
2.      Memberi kesempatan pada akar tanaman untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam
3.      Mencegah timbulnya keracunan besi
4.      Mengurangi kerebahan
5.      Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen
6.      Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan mengurangi kerusakan tanaman padi oleh serangan hama tikus.

B. Tujuan khusus:
1.      Melakukan uji coba suatu teknologi pertanian pada tanaman padi sawah sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan apakah teknologi tersebut layak disebarkan atau tidak diwilayah persawahan setempat.
2.      Mengenalkan pada pelaku utama tentang salah teknologi pertanian pada padi sawah
3.      Sebagai media pembelajaran bagi penyuluh pertanian untuk menyebarkan informasi teknologi pertanian
4.      Sebagai salah satu upaya dalam mengantisipasi anomali iklim yang ekstrim sehingga diharapkan penerapan teknologi tersebut mampu mempertahankan atau meningkatkan produksi tanaman padi

1.3      Sasaran
1.      Seluruh Penyelenggara Penyuluh pertanian yang berada pada wilayah kerja BP3K kecamatan Batanghari
2.      Seluruh Petani dan pengurus kelompok tani yang berada di Kecamatan BatangHari









II.    PERENCANAAN KAJI TERAP PENGAIRAN BASAH KERING

1.1       Lokasi Kaji Terap

Pelaksana Kaji Terap   : Koorluh BP3K Kecamatan Batanghari
Lokasi Sawah              : Lahan Persawahan BP3K Kecamatan Batanghari
Luas Sawah                 : 0,25 Ha
Desa                            : Batangharjo
Kecamatan                   : Batanghari
Kabupaten                   : Lampung Timur
Propinsi                       : Lampung

1.2       Rencana Waktu Pelaksanaan Kegiatan Kaji Terap
No
Jenis Kegiatan
Rencana Waktu Pelaksanaan
April
Mei
Juni
Juli
Agust
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
1
Pembuatan Persemaian
#















2
Pengolahan Tanah

#














3
Tanam



#












4
Pemupukan Dasar



#












5
Pengendalian HPT

#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#
#



6
Pemupukan Susulan 1





#










7
Pemupukan Susulan 2








#







8
Pengendalian Gulma 1








#







9
Pengendalian Gulma 2





#










10
Panen















#




















1.3       Rencana Biaya Dan Kebutuhan Saprodi Kaji Terap
No.
Jenis Saprodi
Jumlah
Harga Satuan (Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
1
Benih
5 kg
Rp    12.000
Rp    60.000
2
Pupuk urea
50 kg
Rp      2.000
Rp  100.000
3
Sp-36
50 kg
Rp      2.000
Rp  100.000
4
petroganik
500 kg
Rp          800
Rp  400.000
5
KCL
50 Kg
Rp      8.000
Rp  400.000











JUMLAH


RP 1.060.000



1.4       Rencana Waktu Pengairan Basah Kering
No
Waktu Pengairan Basah Kering
Ketinggian Air (Cm)
Keterangan

1
0 – 10 HST
1 – 2 APT
Pada satu periode, penambahan ketinggian air hanya dilakukan satu kali. Lalu air dibiarkan surut hingga ketinggian air minimal pada periode tersebut.
Dan pada periode selanjutnya  dilakukan lagi penambahan ketinggian air yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
2
11 – 24 HST
4 APT – 10 BPT
3
25 – 28 HST
4 APT – 2 APT
4
29 – 35 HST
2 APT – 10 BPT
5
36 – 40 HST
4 APT – 10 BPT
6
41 – 45 HST
4 APT – 5 BPT
7
46 – 49 HST
2 APT
8
50 – 54 HST
2 APT – 10 BPT
9
55 – 58 HST
4 APT – 0 APT
10
59 – 70 HST
3 – 4 APT
11
71 – 75 HST
1 – 2 APT
12
76 – 80 HST
2 APT – 15 BPT
13
81 – 85 HST
4 APT – 15 BPT
14
85 – 100 HST
0 APT – 15 BPT
Keterangan:
APT                 : Atas Permukaan Tanah
BPT                 : Bawah Permukaan Tanah
HST                 : Hari Setelah Tanam





III.   REALISASI PELAKSANAAN KAJI TERAP
PENGAIRAN BASAH KERING

1.1       Lokasi Kaji Terap

Pelaksana Kaji Terap   : Koorluh Bp3k Kecamatan Batanghari
Lokasi Sawah              : Lahan Persawahan Bp3k Kecamatan Batanghari
Luas Sawah                 : 0,25 Ha
Desa                            : Batangharjo
Kecamatan                   : Batanghari
Kabupaten                   : Lampung Timur
Propinsi                       : Lampung

1.2       Realisasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan Kaji Terap

No
Jenis Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1
Pembuatan Persemaian
19 april 2012
2
Pengolahan Tanah
29 april dan 7 mei  2012
3
Tanam
08 mei 2012
4
Pemupukan Dasar
11 mei 2012
5
Pengendalian HPT
11 mei, 25 mei, 15 juni, 03 juli 2012
6
Pemupukan Susulan 1
27 mei 2012
7
Pemupukan Susulan 2
13 juni 2012
8
Pengendalian Gulma 1
28 mei 2012
9
Pengendalian Gulma 2
-
10
Panen
11 agustus 2012





1.3       Realisasi penggunaan  Saprodi Kaji Terap
No.
Jenis Saprodi
Jumlah
1
Benih
5      kg
2
Pupuk urea
50    kg
3
Sp-36
50    kg
4
petroganik
500  kg
5
KCL
50    Kg





1.4       Realisasi Waktu Pengairan Basah Kering
No
Waktu Pengairan Basah Kering
Ketinggian Air (Cm)
Keterangan

1
0 – 15 HST
1 – 2 APT
Penambahan tinggi genangan air dilakukan pada hari pertama dalam satu periode pengairan dan air dibiarkan hingga susut sampai batas minimum kebutuhan tanaman akan air, lalu lahan diairi lagi pada saat memasuki periode pengairan berikutnya.
2
15 – 24 HST
4 cm APT – 0 cm BPT
3
25 – 28 HST
4 cm APT – 2 cm APT
4
29 – 35 HST
2 cm APT – 10 cm BPT
5
36 – 40 HST
4 cm APT – 10 cm BPT
6
41 – 45 HST
4 cm APT – 5 cm APT
7
46 – 49 HST
3 cm APT
8
50 – 54 HST
2 cm APT – 0 cm APT
9
55 – 58 HST
4 cm APT – 0 cm APT
10
59 – 70 HST
3 cm – 4 cm APT
11
71 – 75 HST
1 cm – 2 cm APT
12
76 – 80 HST
2 cm APT – 5 cm BPT
13
81 – 85 HST
4 cm APT – 15 cm BPT
14
85 – 100 HST
0 cm APT – 15 cm BPT
Keterangan:
APT                 : Atas Permukaan Tanah
BPT                 : Bawah Permukaan Tanah
HST                 : Hari Setelah Tanam